OSPEK DALAM SASTRA

(Kajian Terhadap Novel Sitti Nurbaya)

O l e h : Muchlis Awwali dan Bahren
Sudah menjadi suatu tradisi di dunia akademik kita, bahwa sebelum mahasiswa baru mulai melangkahkan kaki mengikuti perkuliahan, maka mereka harus menjalani suatu kegiatan, yakni ospek (Orientasi Studi Pengenalan Kampus). Kegiatan ini sudah berlangsung sejak tahun katumba kata orang-orang tua kita. Namun, namanya saja yang bertukar dari kata pelanco diperhalus menjadi kata ospek, karena kegiatan perpeloncoan ini sempat menelan korban dan praktiknya dianggap kurang manusiawi, seperti kegiatan perpeloncoan di STPDN yang pernah ditayangkan media elekronik beberapa waktu lalu.
Bagi para senior kegiatan ospek merupakan acara yang mereka tunggu-tunggu. Mengapa tidak, dalam ospek semua tindakan senior harus dibenarkan. Posisi senior saat itu adalah subjek, sedangkan mahasiswa baru diibaratkan sebagai objek penderita menurut istilah orang-orang linguistik, yang siap menderita selama kegiatan ospek berlangsung. Tidak sampai di situ, mahasiswa baru kan tetap menanggung beban mental meskipun kegiatan ospek telah berakhir.
Secara historis sistem perpeloncoan sudah muncul pada sekolah-sekolah tinggi masa colonial Belanda. Untuk mengetahuinya salah satu sumber yang dapat dijadikan dokumen adalah karya sastra, seperti novel Sitti Nurbaya. Melalui tokoh Samsubahri, pengarang (Marah Rusli) memaparkan bagaimana praktik perpeloncoan yang dialaminya di Sekolah Kedokteran Jawa pada masa kolonial.
Barangkali engkau belum tahu, hampir pada tiap-tiap sekolah tinggi ada suatu adat, yang dinamakan dalam bahasa Belanda ‘ontgroening’, yaitu perpeloncoan. Bila itu dipandang sebagai permainan saja, tiadalah mengapa; akan tetapi terkadang-kadang kasar dilakukan, sehingga boleh mendatangkan kecelakaan pada murid-murid yang dipermainkan itu. Permainan yang kasar itu tidak baik diteruskan. Misalnya aku dengar pada sebuah sekolah menengah, ada permainan yang dinamakan ‘melalui selat Gibraltar’. Engkau masih ingat dalam ilmu bumi, selat Gibraltar itu, ialah suatu selat yang sempit, antara ujung tanah Spanyol dan benua Afrika. Demikianlah yang diperbuat oleh murid-murid kelas tinggi suatu selat yang sempit, yang dijadikan oleh kira-kira dua puluh murid yang tua-tua, yang berleret dalam dua baris. Sekalian murid baru, haruslah berjalan seorang-orang melalui selat ini dan tiap-tiap murid kelas tinggi yang berdiri itu meninju dan menyepak murid-murid baru ini, sehingga ia bertolak dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan sampai ke luar dari selat siksaan itu. Kemudian murid baru itu diangkat bersama-sama, lalu dicemplungkan ke dalam suatu kolam. Apakah faedahnya permainan yang kasar serupa ini? Istimewanya pula sebab ia dapat mendatangkan bahaya. Murid-murid itu jadi bermusuhan-musuhan dan berdendam-dendaman (Rusli, 1990: 104-105).

Berdasarkan kutipan di atas, maka kegiatan perpeloncoan adalah produknya sekolah-sekolah tingginya kolonial Belanda. Hal ini ada benarnya, mengingat salah satu wacana kolonial Belanda yang sering diterapkan pada etnis-etnis di Indonesia pada masa itu adalah adalah sikap saling bermusuhan antar sesama pribumi. Dengan terjadi permusuhan, maka Belanda akan mudah menjalankan politik devide et imperanya (mengadu domba). Sebagai seorang intelektual yang muncul pada masa penjajahan Belanda, maka lewat karyanya ia sudah mengingatkan dengan perkataan ‘apa faedahnya permainan kasar serupa ini’, karena kegiatan perpeloncoan dapat memecah rasa persatuan antar sesama murid (red mahasiswa), seperti kutipan di bawah ini.
Misalnya seorang anak Sunda yang kurang suka kepada anak Jawa atau anak yang telah mendapat siksaan dari anak orang Jawa, tatkala ia mula-mula masuk, menaruh dendam dalam hatinya dan berniat hendak melepas dendamnya kelak kepada anak Jawa. Dengan demikian persahabatan antara kedua suku bangsa ini, yang diharapkan diperoleh karena percampuran dalam sekolah, boleh menjadi kurang dan akhirnya menjadi putus (Rusli, 1990: 105).
Sekiranya kegiatan ini dikaji dengan menggunakan teori konflik, maka para senior diibaratkan sebagai buffer (penyangga) antara pimpinan dan mahasiswa baru dalam pengertian sempit. Artinya jika terjadi persoalan antara pimpinan dengan mahasiswa baru, maka mereka akan berhadapan dulu dengan buffernya pimpinan. Sebaliknya jika terjadi persoalan anatara pimpinan dan senior, maka sang buffer akan minta bantuan dari bawah untuk menguatkan posisinya
Oleh karena itu, sebagai kegiatan yang mengandung bias kolonial, mengapa kita tidak mencari sistem perpeloncoan yang sesuai dengan adat ke-Timuran. Apalagi kita sebagai umat yang beragama (Islam), yang mengajarkan sikap saling bersatu. Pertanyaannya adalah apakah kita masih tetap bertahan pada tradisi yang sudah dilarang agama, yaitu saling menyakiti; kalau iya, kita termasuk golongan musyrik, sedangkan sifat musyrik adalah perbuatan yang betul-betul dilarang Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Bagarah 170 ‘Dan apabila dikatakan pada mereka; Turutlah apa yang diturunkan Allah. Mereka menjawab; Tidak ! kami hanya menurut apa yang kami dapati dari bapa-bapa kami. Biarpun mereka sedikitpun tidak mengerti dan tidak pula menurut pimpinan yang benar’. Ayat ini mengharuskan manusia untuk meninggalkan tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tegasnya mengapa kita harus mempertahan tradisi yang lebih banyak unsur mudaratnya daripada manfaatnya.
Selamat datang mahasiswa baru, semoga ilmu yang diperoleh dapat menambah kedekatan kita pada ALLAH. Amin.

Jurusan Sastra Minangkabau
Fak. Sastra Unand

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: