Dari Satu Titik ke Titik Lain (Menelusuri Skriptorium Minangkabau)

Oleh: Bahren, S.S*
Malam itu, kami telah berkumpul di rumah Bapak Drs. M. Yusuf, M. Hum. (Ketua Kelompok Kajian Poetika) Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang. Kelompok ini merupakan salah satu kelompok studi yang menggeluti bidang penelitian filologi. Filologi merupakan salah satu bidang ilmu yang mengkhususkan arah penelitiannya ke bidang pernaskahan (manuskrip). Manuskrip terdiri dari dua kata yaitu manu yang berarti tangan dan skrip berarti tulisan. Jadi manuskrip merupakan kajian terhadap naskah-naskah tulisan tangan khususnya di wilayah Sumatera Barat.
Malam itu juga, kami merencanakan untuk mengunjungi satu titik penelitian yang sejak lama kami duga menjadi sebuah skriptorium (tempat penyimpana dan penulisan) naskah. Namun kami belum mendapatkan bukti-bukti yang otentik sebelumnya. Tapi kepergian kami esok harinya merupakan kepergian dengan bekal informasik yang cukup akurat dari salah seorang informan yang juga mahasiswa Fakultas Sastra.
Dari data yang kami terima dari Lili Miwirdi, S.S. di daerah Pesisir Selatan tepatnya di Desa Tanjung Limau Sundai Kecamatan Batang Kapas. Ada beberapa buah naskah kuno yang telah ditemukannya. Untuk kepastian data itu kami pun menanyakan beberapa pertanyaan untuk memastikan apakh sebuah daerah merupakan skriptorium.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan merupakan pertanyaan berantai yang memungkinkan ditarik sebuah kesimpulan awal. Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan pertanyaan untuk melihat kecendrungan setiap skriptorium yang ada di wilayah Sumatera Barat. Di antara pertanyaan yang kami lontarkan adalah: apakah Manuskrip (naskah kuno) itu terletak di sebuah Surau (masjid), kalau jawabannya benar, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah surau itu memiliki kulah (bak air) tempat mencuci kaki setelah berwudlu. Jika jawabannya masih benar adanya, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah surau itu terdapat dekat dengan sebuah sungai. Apabila jawabannya masih benar, makadilanjutkan lah pertanyaannya ke arah yang lebih khusus yaitu apakah surau itu memiliki seorang guru / syeh yang pernah mengajarkan agama di sana. Hal ini dapat dibuktika dengan adanya Kobah (komplek permakaman) guru-guru/ syeh yang pernah ada disana. Dari pertanyaan demi pertanyaan yang kami ajukan, pada umumnya semua pertanyan dimiliki oleh surau yang akan kami tuju. Maka dengan sebuah kesepakatan atas informasi itu kamk menuju lokasi penelitian keesokan harinya.
Pagi pun tiba, masih sangat dingin waktu itu. Kami (tim) peneliti Kelompok Kajian Poetika meninggalkan rumah Bapak M. Yusuf munuju titik penelitian. Tepatnya di Desa Tanjung Limau Sundai Kecamatan Batang Kapas Kabupaten Pesisir Selatan. Jalan berliku di sepanjang sisi bukit barisan dan haparan pantai yang indah menghantar kami ke Kabupaten Pesisir Slatan. Kami pun melewati pantai Cerocok nan indah dan pantai Salido yang putih.
Lebih kuang tiga jam kami dalam perjalanan, kami punsampai di titik penelitian. Sesampai kami di sana kami pun ke rumah Bapak walinagari sebagai pemebritahuan awal tentang kedatangan kami kewilayahnya. Bapak Walinagari menyambut baik kedatangan tim dan sangat berharap agar kami dapat menemukan apa-apa yang kami cari.
Dipandu Lili Miwirdi (informan) sekaligus anggota tim peneliti, kami menuju lokasi penelitian yang berjarak lebih kurang 6 KM dari kantor walinagari kami juga didampingi oleh Ibu Hidayatun Nufus sebagai salah seorang ahli waris. Sesampai di lokasi, kami pun melakukan observasi awal, dengan memastikan jawaban demi jawaban dari pertanyaan yang kami ajukan malam sebelum keberangkatan. Dari observasi tersebut hampir semua jawaban yang kami inginkan syarat sebuah skriptorium terpenuhi.
Dibantu juru kunci surau kami pun menaiki surau tua itu. Layaknya surau yang sudah tua dimakan usia memang telah banyak bagian-bagian surau itu yang keropos dimakan rayap. Observasi pun kami lanjutkan. Kali ini observasi kami lakukan lebih kepada tempat-tempat biasanya manuskrip (naskah-naskah kuno) di simpan. Setidaknya ada beberapa tempat yang kami lihat. Tempat-tempat ini antara lain Mihrab (bagian depan ) surau tempat imam berdiri waktu sholat, biasanya di sana terdapat rak-rak tempat guru-guru kitab-kitab yang mereka ajarkan kepada murid-muridnya. Bila tidak terdapat dibagian mihrab biasanya ddisimpan dalam sebuah peti khusus yang letaknya dekat mihrab.
Tempat lain yang menjadi lokasi penyimpanan manuskrip adalah bagian loteng dari surau-sutau yang ada. Penyimpanan di loteng-loteng ini biasanya dilakukan agar manuskrip yang ada tidak mudah dicuri orang. Ada juga dibeberapa tempat penelitian yang lain menggunakan loteng tempat penyimpanannya bertujuan untuk membuat sebuah kesepakatan tidak tertulis dari anggota, kalau ingin atau hendak menurunkan naskah dari loteng mesti mangganti atap surau terlebih dahulu.
Namun di surau Tanjung Limau Sundai yang kami dapati, naskah-naskah itu ditemukan dalam tumpukan-tumpukan kitab-kitab cetakan Persia dan Istambul yang telah bercerai berai dan diikat menjadi tiga bagian besar yang terdapat di mihrab. Sehingga kami memutuskan untuk memeriksa ketiga bagian itu.
Alhasil, di antara rasa percaya dan tidak, apa yang kami cari satu persatu kami temukan. Setidaknya ada lebih kurang 18 manuskrip kami temukan dengan berbagai fariasi dan jenis. Di antara manuskrip yang kami temukan sebagian besar berupa Alquran, Kitab Fiqih, Kitab Tata Bahasa (Nahu Syaraf), Kitab Tafsir, Kitab Tarikh Islam (sejarah Islam), dan Kitab Tarikh Nabi (sejarah nabi). Kesemua kitab itu rata-rata berumur 200 s.d 300 tahun. Umur dari kitab-kitab itu kami ketahui dari jenis kertas yang digunakan. Kertas-kertas yang digunakan untuk menulis kitab itu pada umumnya kertas-kertas produksi eropa sekitar abat ke17. hal ini ditandai dengan Watermark (cap air) dan Kontramark yang terdapat di setiap lembaran kertas yang ada.
Hingga malam kami dilokasi penelitian. Di desa Tanjung Limau Sundai kenagarian IV kota Batang Kapeh. Rasa lelah pun terasa, namun rasa itu seakan terobati dengan penemuan yang dapatkan. Desa Tanjung merupakan salah satu skriptorium naskah-naskah Islam yang terbesar yang pernah kami temukan di Pesisir Selatan, selain Lunang dengan Koleksi naskah Mande Rubiah dan Indropuro dengan Koleksi naskah sisilah raja Indropuro sepanjang 5,1 M. Konon dari pertemuan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) di Jakarta, naskah ini merupakan manuskrip terpanjang yang ada di Indonesia. Maka sudah selayaknya pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Memberikan perhatian lebih untuk daerah-daerah ini. Karena daerah ini sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai salah satu alternatif pariwisata andalan di Pesisir Selatan dengan wisata alam dan pantainya. Barangkali ini bisa digarap menjadi sebuah wisata lain yaitu wisata religius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: