Pantun “Sumbangan besar Bangsa Melayu dalam dunia Sastra” Sari diskusi singgkat dengan Muhammad Haji Saleh

Bahren

Serimbun iko parak
Indak bakayu agak sebuah
Saelok iko awak
Indak bapantun agak sebuah

Itulah sebuah pantun yang sering kali di ucapkan oleh Ibu Adreiyetti Amirs. S.U. Dekan Fakultas Sastra Universitas Andalas, dalam pengantar diskusi beliau beranggan bahwa kiasan dalam masyarakat Minangkabau merupakan pengayaan dari pantun yang ada. Dan pantun itu pulalah kiranya menjadi pengatar diskusi singkat dengan Prof. Muhammad Haji Saleh pada hari Jum’at 23 Juni 2006 di ruang seminar Fakultas Sastra.
Sebelum acara dimulai panitia memutar hasil rekaman perjalanan sang Profesor di beberapa daerah Sumatera Barat dan Jambi dalam menelusuri pantun. Beliua takjub dengan keadaan dilapangan yang ditemui. Salah satunya di daerah Kerinci Propinsi Jambi yang beliau dapatkan masih hidupnya tradisi berpantun ini dalam masyarakat. Mereka menyebutnya dengan Batale nasehat-nasehat dalam bentuk lagu dan biasanya dibawakan ketika ada anggota keluarga yang naik haji dan pesta. Batale ini dibawakan oleh kaum ibu. Jenis kegiatan lain yang menggunakan pantun ini adalah Saluko adat semacam acara pasambahan adat, perkawinan yang di bawakan oleh pemuka-pemuka masyarakat.
Muhammad Haji Saleh dalam pengatar buku Puitika Melayunya telah melakukan sebuah percobaan menyeluruh untuk melihat konsep dan prinsip dasar yang menjadi landasan pemikiran dan penciptaan Sastera Melayu. Bermula dengan takrif kata-kata dasar, Muhammad hai saleh mencoba memmasuki daerah konsep teks, genre, dan pengarang. Hal inilah yang menjadi awal dari diskusi yang di pandu oleh Condra Antoni.
Pada bagian awal diskusi Prof. Haji Saleh memaparkan bagaimana sebuah pantun dapat berkembang dan dikenal di berbagai belahan bumi ini. Walaupun dengan penamaan dan sebutan yang berbeda di antara satu wilayah dan wilayah lain. Ada yang menyebut pantun ini dengan poet dan ada juga yang menyebutnya dengan poot.
Dalam penyebarannya pantun setidaknya dikembangkan dan di sebarkan oleh beberapa orang atau kelompok. Kelompok yang paling memiliki pengaruh besar dalam pengembangan pantun ini adalah kelompok pedagang (para saudagar). Beliau beranggapan kelompok inilah yang menjadi pionir dalam pengembangan dan penyebaran pantun. Hal ini terlihat dari banyaknya pantun-pantun yang sama dari beberapa daerah. Sebagai contoh beliau menyebutkan sebuah pantun tentang ‘pulau pandang’. Pantun ini terdapat bukan hanya di Padang (Sumatera Barat), tapi pantun serupa terdapat di dareah Malaysia, Riau, dan Sulawesi Selatan, Lombok, Bima. Bahkan untuk Malaysia mereka juga mengenal pulau pandan.
Kelompok atau orang kedua yang menyebarkan pantun ini adalah para guru. Beliau memilih berpantun dalam menyampaikan pelajaran demi pelajarn yang akan diajarkan karena pantun tersusun dari kata-kata yang berima sehingga enak untuk di dengar dan cerna. Sehingga pesan-pesan yang akan disampaikan lebih cepat diterima oleh para murid.
Kelompok ketiga yang menjadi penyebar budaya berpantun ini adalah kelompok agama atau orang-orang tarikat. Orang-orang inilah yang memungkinkan adanya jenis pantun agama atau pantun yang bersifat nasehat yang mengarah ke religius. Dalam pada itu kelompok tarikat ini pun dalam pengembangan agama memilih pantun sebagai salah satu media penyampainya didasari atas pergolakan dalam bidang sosial dan politik. Hal ini terlihat jelas di Sumatera Barat ketika pergolakan PRRI berlangsung kaum agama dilawan dan disingkirkan. Maka dengna cara berpantunlah mereka menyebarkan ajaran-ajaran tarekat yang mereka terima sebelumnya.
Selanjutnya Prof. Muhammad Haji Saleh memaparkan bagaimana sebuah pantun itu lahir. Hal yang paling mendasar yang menyebabkan lahirnya pantun adalah alam. Banyak sekali fenomena-fenomena alam yang menyebabkan lahirnya pantun. Seperti gunung, bunga, laut, pantai, sungai dan lainnya.
Yang tak kalah menarik adalah warna-warna yang masih di lahirkan oleh alam, seperti merah, kuning, hijau dan lain sebagainya. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah suasana hati penggubah pantun. Seperti sedih, senang, gembira, suka cita dan banyak lagi yang lain.
Dalam diskusi yang berjalan hampir tiga jam ini, banyak sekali pertanyaan yang bermunculan tentang pantun ini. Antara lain kalau benar pantun ini merupakan sumbangan besar bangsa melayu dalam dunia sastra, mengapa kita masih memakai teori-teori barat untuk membahas pantun. Hal ini bermula dari budaya lisan bangsa melayu sehingga dalam penyampaiannya pun bangsa melayu tidak bisa berbuat banyak. Namun dalam perkembangannya kita mulai melihat ada sebuah keinginan dari bangsa melayu untuk kembali ke akar, kembali kebudaya. Salah satunya Prof. Muhamamd Haji Saleh yang telah melanglang buana mencari silsilah pantun dan merunut kembali akar budaya itu. Siapa berikutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: