BAHASA DAN IDENTITAS KELOMPOK

*BAHREN
Bahasa menunjukkan bangsa. Paling tidak itulah sebuah tamsil atau pepatah lama menyebutkannya. Lain dari pada itu, bahasa juga merupakan sebuah konvensi dari para penggunanya. Karena merupaka konvensi, bisa jadi bahasa pun digunakan oleh kelompok tertentu untuk memperlihatkan identitas mereka. Inilah saya, inilah kami, ketika sebuah pertanyaan muncul mengapa mereka menggunakan bahasa seperti itu.
Menarik untuk memperhatikan bahasa sebagai identitas kelompok. Karena dengan mendengar atau melihat slogan, kata atau istilah yang mereka pakai, secara cepat kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah kelompok ini, atau mereka merupakan bagian dari kelompok itu. Dalam tulisan ini setidaknya ada beberapa kelompok yang menggunakan bahasa tertentu sebagai petanda bahwa mereka berasal dari kelompok yang memiliki sebuah ciri dan konvensi tersebut. Adapun kelompok-kelompok yang dapat saya amati dalam keseharian kita meliputi:

1. Kelompok Pecinta Musik
Dalam kelompok pecinta musik ini berbagai slogan, kata dan istilah muncul untuk mempersatukan mereka satu sama lainnya. Misalnya saja bagi pecinta setia tembang-tembang lawasnya Iwan Fals mereka menyebut kelompoknya sebagai ’OI’ singkatan dari Orang Indonesia. Ada lagi yang menyebut dirinya sebagai ’Sahabat Peterpan’ bagi kelompok pecinta lirik-lirik romantis milik grup band Peterpan. Tidak hanya itu, Slank, selain memiliki Gank Potlot, mereka juga mempunyai ’Slankers’. Grup band Gigi dengan ’Gigi Kita’. Sheila on Seven dengan ’Sheila ganknya’. Nidji dengan Nidji Holik, ’Sobat’ Padi, ’Bala Dewa’ grup band Dewa. Bahkan Inul pun punya FBI (Fans Berat Inul). Slogan, kata atau istilah itu mereka buat, bisa saja mengikuti nama grup band yang mereka gandrungi, ada juga yang membuatnya mengikuti tembang-tembang grup band favorit mereka yang pernah hit seperti ’sahabat’ dari tembang hit Peterpan. Lain dari itu, ada juga menurut konsentrasi dan perhatian pemusiknya terhadap negara ini ’Orang Indonesia’ yang merupakan fansnya Iwan Fals.
2. Kelompok Media Elektronik
Fenomena bahasa dalam menentukan identitas kelompok juga melanda media elektronik radio maupun televisi. Radio misalnya para fansnya membuat bahasa, slogan, kata, atau istilah tersendiri sebagai bukti bahwa mereka adalah pecinta dan penikmat setia radio tersebut. Sebut saja ’SIPPers’ untuk pendengar setia SIPP FM Padang, ’Jinggers’ sebutan untuk kelompok pendengar setia Jingga FM, Calssy People bagi fans Classy FM. ’Youngers’ untuk para penikmat siaran Pro dua FM (RRI). ’Indonesiana’ ARBES.
Tidak hanya radio yang membuat slogan, kata, atau istilah sebagai penanda kelompok, televisi pun ikut-ikutan dalam membuat yang demikian untuk merebut hati pemirsanya. Sebut saja TVRI dengan ’Menjalin Persatuan dan Kesatuan’. Kata OKE milik RCTI bagi pemirsanya yang menginginkan siaran yang OK punya. ’Satu untuk Semua’ punya SCTV dihadirkannya untuk pemirsanya di seluruh lapisan masyarakat. Tidak ketinggalan TPI yang ’Makin Indonesia Makin Asyik Aja’ dengan tawaran siaran-siaran yang Indonesia banget. ’Seru’ milik Global TV, Trasn TV dengan ’Untuk Kita Bersama’, MTV yang ’Gue Banget’. Dan Indosiar ’Kebangganan Bersama Milik Bangsa’.
3. Kelompok Pecinta Olah Raga
Demam identitas juga melanda kelompok pecinta olah raga. Sebut saja ’The Kmer’ sebutan bagi pendukung setia klub sepak bola asal Padang Semen Padang. ’Jack Mania’ bagi para pendukung PERSIJA, ’Bonek’ bagi simpatisan klub PERSEBAYA. Untuk kelompok yang lebih besar kita mengenal istilah ’Tiffosi’ untuk penggemar setia tim Italia, ’Holigan’ sebutan populer bagi pendukung fanatik tim Ingrris.
4. Kelompok Hobi
Selain kelompok di atas masih ada kelompok lain yang menggunakan kata, slogan, atau istilah sebagai identitas kelompok mereka. IMI misalnya sebutan bagi para pecinta motor di Indonesia secara umum. Secara lebih khusus ada IMBI bagi pecinta motor besar di Indonesia.
5. Organisasi Massa
Organisasi massa pun menikmati ini, pengenalan identitas kelompok mereka dengan jelas mereka lekatkan dalam organisasi yang mereka jalani. Misalnya ’Pemuda Anshor’ milik organisasi massa Nahdatul Ulama, ’Hizbulwathan’ merupakan Kepanduan yang berada di bawah naungan payung besar Muhamadiah dan masih banyak lagi organisasi massa di bawah Muhammadiah ini, sebut saja Pemuda Muhamadiah, Angkatan Muda Muhamadiah, Ikatan Remaja Muhamadiah, Aisiah Muhamadiah, organisasi massa yang lain adalah PERTI ’ Persatuan Tarbiah Islamiah’.
6. Partai Politik
Partai Politik pun tak luput dari gejala identitas yang menggunakan bahasa ini. Ada Barisan Muda PAN yang merupakan identitas kelompok pengikut Partai Amanat Nasional, Angkatan Muda Partai GOLKAR sebagai sebuah bahasa pemersatu bagi pendukung Partai GOLKAR, Gerakan Pemuda Ka’bah merupakan kelompok yang berada di bawah Partai Persatuan Pembangunan, juga ada Pandu Keadilan sebagai identitas anggota setia Partai Keadilan.
7. Kelompok Mahasiswa
Pada kelompok mahasiswa penggunaan bahasa sebagai petanda identitas kelompok mereka juga terjadi MAPALA misalnya, sebuah kata yang mempersatukan mahasiswa yang memiliki kecenderungan peduli akan kelestarian alam, IMM dengan mendengar singkatannya saja kita langsung bisa menebak bahwa mahasiswa ini adalah bagian dari kelompok Ikatan Mahasiswa Muhamadiah, HMI sebagai kelompok pergerakakkan mahasiwa yang berbasis Islam, begitu juga dengan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sebagai sebuah kelompok yang mewakili mahasiswa sebuah universitas, DLM (Dewan Legislatif Mahasiswa) ibarat DPRDnya di sebuah Propinsi.
8. Kelompok Pemerintahan
Untuk kelompok pemerintahan slogan, kata, atau istilah juga digunakan untuk memperkenalkan kotanya kepada para pendatang. Entah itu para turis lokal, nasional atau manca negara. Padang sebagai contoh dengan slogan ’Kota Tercinta Kujaga dan Kubela’, Solok Selatan ’Sealam Sesurambi’, Padang Panjang ’Serambi Mekah’, Pariaman ’kota tabuik’ dan berbagai kota lainnya.
Jadi dapat dikatakan bahwa untuk memperlihatkan identitas kelompok, dengan bahasa sangat nmemungkinkan sekali kita merealisasikannya. Karena bahasa yang mudah, bahasa yang indah akan cepat diingat oleh khalayak. Sehingga bukan tidak mungkin dengan penggunaan bahasa itu kita dapat memetakan kekuatan masing-masing kelompok, dan kecenderungan masing-masing kelompok. Hal ini juga bermanfaat untuk menentukan kelompok ini atau kelompok itu berpotensi untuk hal ini atau hal itu. Semoga…

* Sataf Pengajar Jurusan Sastra Daerah
dan Anggota Kelompok Kajian Poetika
Fakultas Sastra Universitas Andalas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: