FESTIVAL SALUANG DENDANG
SEBUAH UPAYA PELESTARIAN SENI TRADISI
Bahren
Nan singgalang tadanga runtuah
Urang babaliak hinggo jalan
Sinan hati mangkonyo rusuah
Sadang basayang uda bajalan
Sutan saidi rang singgalang
Mahampa padi di halaman
Putuih tali dapek di ulang
Nan bedo urak jo janjian

Demikianlah himbauan Singgalang sebagai himbauan pembuka dalam setiap kegiatan Saluang Dendang. Hal serupa juga terdengar selepas acara pembukaan Festival Saluang Se-Sumatera Barat yang digelar oleh Laboratorium Minangkabau. Hari itu Selasa, 27 Juni 2006. Sebuah acara besar diadakan di Fakultas Sastra Univesritas Andalas. Acara yang menjadi iven lima tahunan Laboratorium Minangkabau. Saluang Dendang, begitulah panitia acara menyebutnya.
Acara yang diawali dengan pengantar dari Ketua Panitia Bapak Khanizar S.Sn. M. Si.. Dalam Sambutannya Pak Can (begitu panggilan akrabnya) mengemukakan bahwa Minangkabau merupakan salah satu etnik yang ada di Indonesia, yang memiliki berbagai jenis tradisi. Kesenian-kesenian tersebut tersebar merata pada seluruh teritorial Minangkabau yang dikenal sebagai Luhak, Rantau dan Pasisia. Tiap-tiap jenis kesenian memiliki bentuk, fungsi dan perangkat yang berbeda pada unit-unit yang lain misalnya adalah Saluang Dendang.
Saluang Dendang merupakan penyajian kesenian dendang yang diiringi dengan permainan suatu instrumen, yakni saluang. Dan dendang merupakan istilah untuk menyebutkan penyajian musik vokal yang diiringi musik yang melodis. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kesistensi dari kehidupan Saluang Dendang cenderung menunjukkan kemunduran. Hal itu sebagian disebabkan karena proses regenerasi yang berjalan tidak efektif.
Salah satu hal yang dianggap perlu dilakukan adalah dengan menggelar iven yang bernilai seni dan kompetitif. Festival inilah yang dinilai pantas dalam menyikapi kemunduran Saluang Dendang. Kegiatan ini bermaksud agar kesenian tradisi Saluang Dendang tidak ketinggalan dalam berinovasi dan melanjutkan regenerasi, sehingga manjadi lebih menarik, dan pada akhirnya minat para generasi muda tertarik untuk menggeluti kesenian tradisi tersebut (Saluang Dendang). Iven ini juga merupakan salah satu bentuk dari rangkaian acara yang dilakukan Universitas Andalas dalam rangka Lustrum ke X. Berikutnya acara dilanjutkan dengan sambutan dari Dr. Badrul Mustafa Kemal Pembantu Rektor III Universitas Andalas dan dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi oleh Bapak Ir. Indra Catri (asisten II) walikota padang ini berlangsung selama satu hari. Acara ini diikuti oleh 10 tim Saluang Dendang yang berasal dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Namu festifal kali ini didominasi oleh tim-tim yang dari Padang, dan juara umum pada festival saluang tahun 2001 dari kota Payakumbuh.
Dalam sambutannya Indra Catri melihat keberadaan seni tradisional khususnya Saluang Dendang makin terpinggirkan, dengan adanya inovasi-inovasi lain yang muncul dari perkembangan teknologi yang mengarah kepada yang bersifat instan. Hal ini terlihat dari munculnya kreasi-kresi dari saluang ini seperti saluang dangdut, saluang regae, dan saluang remik. Sehingga saluuang dendang ini menjadi seperti tabu (maki ke ujung makin hambar. Selain dari itu, Indra Catri pun menyambut baik usaha dari panitia festival yang telah membuat iven seperti ini. Harapannya iven-iven seperti ini perlu diperbanyak dan dimasyarakatkan agar seni tradisi kita (minangkabau) tidak hilang begitu saja.
Tapat pada pukul lima hari itu acara pun ditutup dengan pengumuman siapa saja yang telah menjadi pemuncak dalam kegiatan festifal saluang kali ini. Dewan juri yang diwakili oleh Bapak Musra Dahrizal Katik Jo mangkuto menyebutkan nama-nama para pemenang. Adapun yang mendaji pemenang pada festifal kali ini adalah grup Minang Sakato darai Rindang Alam Limau Manih Padang sebagai juara harapan I, Ema Nepo Grup dari Indarung sebagai harapan juara III, Talang Parindu dari Simpang Piai sebagai juara II, dan juara bertahan Gurindam Talang Sarueh dari Payakumbuh sebagai juara satu dan kembali memenangkan tropi bergilir dari gubernur Sumatera Barat.
Tentu saja harapan dari asisten II walikota Padang tersebut tidak dapat dilakukan tanpa ada dorongan dan keinginan dari seluruh masyarakat kita ( orang Minang). Semua itu akan tetap seperti tabu kalau kita sendiri tidak berusaha manjadikannya seperti coklat. Terserah dari mana kita akan memakannya, yang namanya coklat akan tetap enak, manis dan nikmat untuk dirasa. Labiratorium Minangkabau telah memulainya. Kapan lembaga-lembaga yang lain akan menyusul untuk jenis festival yang lain.

2 Tanggapan so far »

  1. 2

    elfialdi said,

    Rencana, kama ka baburu naskah lai, Bahren. Salamaik hari rayo yo.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: